Petanian model Tekno-ekologis merupakan model pertanian yang berupaya memadukan kekuatan pertanian ekologis dengan pertanian berteknologi maju, sehingga terbentuk model pertanian yang lebih produktif, efisien dan berkualitas dengan resiko yang lebih kecil sekaligus ramah lingkungan.

Penerapan model pertanian tekno-ekologis diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Salah satu usaha dari penerapan model tersebut adalah dikembangkan verietas yang tepat yakni varietas yang rendah emisi Gas Rumah Kaca (GRK), tahan genangan atau kekeringan, tahan serangan hama dan penyakit tertentu, serta memiliki produktivitas yang tinggi. 

Dengan menerapkan model pertanian tekno-ekologis ini maka kesejahteraannya akan meningkat karena model pertanian ini merupakan langkah mitigasi sekaligus adaptasi terhadap dampak perubahan iklim bagi petani meski berada dalam ancaman perubahan iklim.

Model pertanian tekno-ekologis dapat mencapai target produktivitas secara memuaskan pada komoditas tertentu, seperti padi, jagung, dan kacang-kacangan. Sistem ini lebih efisien dan berkualitas dengan risiko yang lebih kecil dan ramah lingkungan.

Penerapan pertanian tekno-ekologis

Tekno-ekologis di ekosistem lahan kering beriklim basah di antaranya diterapkan pada perkebunan kopi dan kakao. Setiap metode bisa diterapkan dengan sistem integrasi sederhana atau integrasi kompleks.

Dari aspek ekologi, model pertanian tekno-ekologis berorientasi pada optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal melalui siklus produksi tertutup guna menekan penggunaan bahan-bahan anorganik (kimiawi). Implikasinya, model tekno-ekologis ini akan dapat mendukung kelestarian ekosistem.

Jika penerapannya didukung oleh aplikasi teknologi yang bersifat adaptasi dan mitigasi secara terencana dan terarah, model pertanian tekno-ekologis dapat membantu petani dalam menyikapi fenomena global perubahan iklim yang semakin ekstrem.

A) MODEL PERTANIAN TEKNO-EKOLOGI (DI EKOSISTEM SAWAH)

Petani umumnya mengusahakan tanaman pangan hanya dalam musim hujan. Biasanya pada musim kemarau masyarakat mengusahakan pemeliharaan ternak. Dengan demikian tanaman atau pohon dan semak penghasil pakan ternak merupakan salah satu pilihan penting.

Gambaran keterkaitan antara tanaman dan ternak dalam kerangka usaha tani tradisional adalah pemanfaatan sumber daya lahan, tenaga kerja, dan modal secara optimal untuk menghasilkan produk seperti hijauan pakan ternak, tenaga ternak, dan padang penggembalaan, serta produk akhir seperti tanaman serat, tanaman pangan, dan daging.

B) MODEL PERTANIAN TEKNO-EKOLOGI (DI EKOSISTEM LAHAN PERKEBUNAN-TERNAK)

Budidaya ternak semi intensif dilakukan oleh peternak yang juga pekebun jeruk, dan hijauan pakan ternak diberikan di kandang. Hijauan pakan ternak disediakan dalam sistem potong angkut, dan umumnya bersumber dari bawah tanaman jeruk, pinggir jalan, dan tempat lainnya. 

Kawasan pegunungan umumnya ideal untuk tanaman buah- buahan dan sayuran. Wanatani bisa merupakan perpaduan antara tanaman buah-buahan dengan sayuran atau dengan tanaman pangan.

Ciri dan Faktor Pembentuk Model Pertanian Tekno-ekologis

Adanya Diversifikasi (Keragaman) Komoditas

Jika hendak menerapkan model pertanian tekno-ekologis, sementara komoditas yang kita usahakan hanya satu jenis, kita perlu mengusahakan  setidaknya satu jenis komoditas lagi yang nantinya akan memiliki hubungan fungsional dengan komoditas pertama. Jika jumlah komoditas yang diusahakan lebih dari dua akan lebih baik lagi, sepanjang ada hubungan fungsional (pemanfaatan zat-zat makanan).

Adanya Pola Integratif

Pola integratif merupakan ciri khas sekaligus faktor ini tebentuknya model pertanian tekno-ekologis. Tanpa adanya integrasi, tidak akan ada model pertanian tekno-ekologis. Jadi, ciri atau syarat utama berkembangnya model pertanian ini adalah adanya integrasi atau diversifikasi fungsional antara dua komoditas (spesies) atau lebih. Pola integratif adalah pola dalam usaha tani yang menekankan komoditas-komoditas yang diusahakan memiliki hubungan fungsional dalam pemanfaatan zat-zat makanan, sehingga antar komoditas tidak berkompetisi, melainkan saling substitusi dalam memenuhi kebutuhan hara atau nutrisi.

Orientasi Pemanfaatan Sumber Daya Lokal

Karena model pertanian tekno-ekologi mendorong terbentuknya siklus produksi tertutup, maka dengan sendirinya akan berorientasi pada pemanfaatan sumber daya lokal dan menekan masuknya masuknya input dari luar, karena adanya rantai pemanfaatan zat-zat makanan dari tanaman ke ternak berupa limbah tanaman untuk pakan dan dari ternak ke tanaman berupa limbah (feces dan urine) untuk pupuk.

Ramah Lingkungan

Meski berorientasi pada pemanfaatan sumber daya lokal, model pertanian tekno-ekologis selalu membuka diri terhadap inovasi dan teknologi baru, sepanjang inovasi dan teknologi tersebut bersifat ramah lingkungan. Aplikasi teknologi ramah lingkungan merupakan ciri sekaligus pendukung penguatan model pertanian tekno-ekologis. Pengertian ramah lingkungan di sini, disamping mengurangi penggunaan bahan-bahan anorganik (pupuk, pestisida, pakan) dan meningkatkan penggunaan bahan-bahan organik, juga berorientasi untuk menjaga keseimbangan antarkomponen ekosistem.

Adanya Pengolahan Hasil

Adanya teknologi pengolahan hasil bukan merupakan ciri utama model pertanian tekno-ekologis, tetapi merupakan faktor pendukung yang sangat penting.

Itulah model Pertanian Tekno-ekologis yang bisa diterapkan oleh para petani.